Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Allah SWT Yang Mahakaya
mengaruniakan kepada kita kesungguhan untuk memberikan yang terbaik
dalam setiap ibadah kita. Selawat dan salam semoga selalu terlimpahkan
kepada Rasulullah saw.
Saudaraku, kita tidak perlu ragu berbagi. Mengapa? Karena tidak
mungkin kita jatuh miskin karenanya. Dalam surah al-Baqarah [2] ayat
261, diumpamakan tentang, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di
jalan Allah. Seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai. Pada
setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang
Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Mahamengetahui.”
Jadi, seperti sebutir benih menumbuhkan tujuh tangkai, dan dari
tiap tangkainya menghasilkan seratus biji. Tujuh ratus kali lipat. Tapi
seharusnya kita malu menghitung seperti ini. Sebab selama ini saja kita
pelit, tetap dicukupi oleh Allah. Ayo, gemarlah berbagi!
Namun, dalam berbagi kita juga harus tetap berhati-hati.
Sebagaimana diingatkan dalam lanjutan ayat tersebut. Bahwa, “Orang-orang
yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian dia tidak mengiringi
apa yang dia nafkahkan itu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti
perasaan penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak
ada rasa takut pada diri mereka. Dan mereka tidak bersedih hati.” (QS.
al-Baqarah [2]: 262-263).
Mari berbagi, tapi jangan menyakiti perasaan penerimanya. Contoh
yang akan dikemukakan di sini mungkin sesuatu yang tidak asing di
tengah-tengah kita. Untuk itu, perlu disampaikan di awal bahwa saya
tidak bermaksud menilai siapa pun, baik yang di lingkungan Daarut
Tauhiid maupun lainnya. Tapi mari kita menilai diri kita sendiri, agar
kita tidak berbuat begitu.
Misalnya diumumkan, “Sumbangan anak yatim piatu. Kepada para anak
yatim, silakan maju ke depan!” Maka dijejerkanlah mereka untuk diberi
amplop dan disalami satu per satu. Dan saat difoto sambil mengusap-usap
kepalanya, ditambahlah basa-basinya, “Apa kabar, nak? Bagaimana keadaan
orangtua?” Anak yatimnya bingung, “Saya kan yatim piatu.” “Eh, maksud
saya, orangtua tetangga.” Yang seperti ini amat zalim. Berbagi tidak
pakai hati.
Atau, “Sumbangan untuk kaum dhuafa. Kepada bapak dan ibu yang
paling miskin di RW ini, silakan ke depan!” Pergunakanlah perasaan kita.
Betapa malunya dipertontonkan. Disuruh berdiri di panggung setengah
jam, mendampingi kita bicara pesan dan kesan yang tidak penting, dan
mereka pun cuma diberi sepuluh ribu. Ini benar-benar kezaliman.
Saudaraku. Yang begitu bukanlah berbagi, tapi mempermalukan dan
menzalimi. Bukan memberi, tapi mengeksploitasi. Sebetulnya kita sama
sekali tidak peduli terhadap mereka. Tapi yang kita pedulikan adalah
dipotret, masuk berita sampai dikenal sebagai baik dan dermawan. Kita
sebetulnya memanfaatkan mereka untuk peduli pada diri kita sendiri yang
berhati miskin.
Masih banyak contoh serupa lainnya yang bisa dengan mudahnya
terjadi. Mungkin kita pernah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan
sibuk menyiapkan acara mempermalukan orang seperti tadi. Kemudian bangga
mempublikasikan foto kita yang sedang berada dalam acara penzaliman
orang tidak mampu.
Oleh sebab itu, sekali lagi ditegaskan, saya tidak bermaksud
apalagi mengajak saudara menilai orang lain. Namun mari menilai diri
sendiri supaya tidak melakukannya. Rabalah perasaan orang. Disebut
dhuafa saja sudah tidak enak.
Kita sendiri juga bisa langsung emosi kalau dipanggil miskin,
meskipun mungkin faktanya memang begitu. Apalagi kalau nama kita
diumumkan dan disuruh naik ke atas panggung, dan foto penzaliman diri
kita dipajang bertahun-tahun pada kertas berita dan internet. “Ini foto
kakek waktu muda, ya? Kakek menang lomba apa?” tanya cucunya kelak.
Nah, saudaraku. Kita memang harus gemar berbagi sebagai wujud
syukur atas karunia AllahSWT yang amat melimpah. Tapi jangan sampai
dalam berbagi itu, kita malah menzalimi. Ketika ingin memberi, langsung
saja lillaahita’ala. Atau, kumpulkan uang diam-diam, dan diam-diam pula
mengantarnya. Dan sampai di rumahnya tidak usah lagi berkata, “Ini dari
saya, jangan bilang siapa-siapa ya.” Sudahlah, ikhlas dan berikan saja!
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Mari-Berbagi-Jangan-Menzalimi





Tidak ada komentar