Anak yang sudah masuk masa puber idealnya sudah bisa mandiri dan
tidak tergantung kepada orang lain. Kemandirian ini tentu saja tidak
datang dengan sendirinya. Orangtua bertanggung jawab untuk
menumbuhkannya pada masa-masa sebelumnya.
Apalagi kita mengetahui bahwa masa puber adalah masa peralihan dari
masa anak-anak menjadi masa dewasa. Perempuan umumnya lebih cepat
mengalami masa puber dibandingkan anak laki-laki. Pada anak perempuan,
mulai usia 11 tahun sudah mulai terlihat tanda-tanda pubernya. Adapun
anak laki-laki biasanya setahun lebih lambat, yaitu antara usia 12-13
tahun. Namun demikian, pada saat sekarang masa puber anak cenderung
lebih cepat. Hal ini boleh jadi dipengaruhi oleh kualitas gizi yang
semakin membaik, atau bisa pula karena faktor lingkungan, khususnya
tontonan yang memancing anak untuk cepat dewasa. Jadi, patokannya bukan
hanya usia, tapi juga dari tanda-tandanya.
Tanda-tanda puber pada anak perempuan bisa dilihat dari perilakunya
yang mulai centil dan senang dandan. Adapun pada anak laki-laki, dia
mulai berpikir ingin tampil seperti ayahnya. Anak perempuan mengalami
menstruasi dan anak laki-laki mimpi basah. Pada periode ini,
ketertarikan kepada lawan jenis sudah mulai muncul. Terjadi pula
perubahan fisik yang lebih cepat dari masa sebelumnya.
Mereka sendiri sebenarnya masih bingung dengan perubahan-perubahan
tersebut. Itulah mengapa, anak yang sudah mulai memasuki masa puber, dia
sering berperilaku yang tidak seperti biasanya. Bagi anak perempuan,
sering berjalan agak membungkuk. Anak laki-laki sering merasa tidak
nyaman, sehingga ke mana-mana sering memasukkan tangan ke saku. Dia
tampak seperti tidak mau melihat ke sekeliling.
Peran Orangtua
Melihat fenomena semacam ini, peranan orangtua untuk membekali
anak-anak saat memasuki masa puber menjadi sangat penting. Orangtua
dapat memberikan pemahaman kepada anak bahwa setiap orang akan mengalami
apa yang tengah mereka rasakan, dan itu normal. Hal yang tidak kalah
penting, orangtua dituntut untuk memberikan pemahaman bahwa orang yang
sudah haid atau mimpi basah sudah wajib salat dan seluruh amalan sudah
ditanggung sendiri. Kalau anak berbuat salah, orangtua berkewajiban
untuk mengawasi setiap saat. Bagi anak laki-laki, sebaiknya diberitahu
oleh bapaknya. Namun, apabila bapaknya tidak sempat, dia boleh
diberitahukan oleh ibunya.
Perilaku remaja yang sering membuat gerah orangtua adalah pergaulan
dengan lawan jenis. Anak jadi sering pulang malam atau berlama-lama
bicara di telepon atau ponsel dengan temannya. Kebanyakan remaja tidak
merasa bermasalah dengan perilaku yang menurut kita kurang baik.
Bagaimana menyikapi perilaku anak di usia puber secara bijaksana? Pertama,
orangtua harus terbuka pada anak dengan mengajak mereka berdiskusi.
Dengan demikian, anak pun diharapkan bisa terbuka dengan orangtua,
karena ia memiliki kepercayaan pada orangtuanya. Kedua,
orangtua harus tetap mengawasi dari jauh. Anak yang sudah masuk masa
puber, seharusnya sudah bisa mandiri. Salat tidak harus disuruh lagi.
Untuk tahap awal, orangtua harus terus mengingatkan dan memberi contoh.
Ada kalanya seorang anak merasa canggung dan tidak biasa curhat
kepada orangtua. Dia lebih memilih orang lain sebagai tempat curhatnya,
mungkin kakak atau keluarga yang lain, teman, dan lainnya. Anak
terkadang mendapatkan informasi yang salah, sehingga menjerumuskan
mereka pada perbuatan yang membahayakan dirinya.
Setidaknya ada dua cara agar anak tidak mendapat informasi yang salah dan tidak terjerumus dalam pergulan bebas. Pertama,
orangtua harus paham bahwa anak pada masa puber memiliki kebutuhan
berbeda dibanding masa sebelumnya. Masa remaja adalah masa paling berat
sehingga mereka sangat butuh pendampingan. Kedua, jalin
komunikasi yang baik dengan anak. Seperti ketika pulang sekolah dan saat
makan malam, tanyakan kabar hari ini, di sekolah bertemu dengan siapa
saja, dan sebagainya.
Bagi orangtua yang memiliki putra-putri yang menginjak masa remaja,
jangan kecil hati dan jangan takut. Yakinlah, tidak ada kekecewaan dan
kekhawatiran kalau kita terus belajar dari orang yang berilmu dan
menitipkan mereka kepada Allah SWT. Panjatkan doa, “Rabbanaa hablanaa min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrata a’yun wa ja’alnaa lilmuttaqiinaa imaama” (QS. al-Furqaan [25]: 74).
Mudah-mudahan kita terus dituntun oleh Allah Ta’ala untuk mampu
mengantarkan anak-anak kita menjadi anak yang salih dan salihah. Âamîîn.
(Ninih Muthmainnah)
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Bijak-Menyikapi-Masa-Puber-Anak
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Bijak-Menyikapi-Masa-Puber-Anak





Tidak ada komentar