Berasal dari Yogyakarta yang sangat
dimanjakan oleh budaya tutur, membuat pria bernama lengkap Bambang Bimo
Suryono ini, memantapkan tekadnya sebagai pendongeng. Sebuah peran yang
mungkin tidak begitu populer di kalangan da’i maupun masyarakat. Akan
tetapi, pria kelahiran Bantul, 14 Mei 1974 itu amat yakin dunia
anak-anak merupakan wilayah dakwah yang sangat penting. Metode dongeng,
menurut ayah enam anak yang akrab disapa Kak Bimo ini, lebih cocok
dengan nasihat dakwah ketimbang metode lain, misalnya lagu dan permainan
edukatif lainnya. Lewat penyampaian kisah, banyak pengetahuan dan
nilai-nilai kehidupan dapat diajarkan tanpa anak-anak merasa diceramahi.
“Ciri khas anak itu dunia fantasi, maka kita manfaatkan dengan
sentuhan religius. Di dalamnya kita masukkan banyak pengetahuan,
terutama tentang keimanan. Tanpa keimanan yang baik, saya rasa akan
banyak masalah dalam kepribadian mereka nantinya,” kata Kak Bimo yang
merasa lebih tepat dirinya dipanggil “juru kisah”.
Dakwah melalui kisah ia yakini sebagai pertanggungjawaban atas
amanah yang diemban. Yakni mewujudkan generasi berkarakter atau
berakhlak qurani, sehingga di masa mendatang mereka siap sanding dan
tanding, serta layak untuk memimpin.
“Saya menyebutnya sebagai gerakan transformasional, bukan
transaksional. Meskipun saya disebut ahli bercerita, tapi saya tidak
menyebutnya sebagai profesi. Ini murni pengabdian. Karena metode
bercerita bagi saya hanyalah alat, dan kemampuan mendongeng bagi saya
adalah sebuah keterampilan atau kompetensi seorang da’i,” lanjutnya.
Berikut ini perbincangan Kak Bimo dengan tim dari majalah Swadaya di Masjid Syuhada, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.
Akidah sebagai Formula Berkisah
Kak Bimo yang beristrikan Elis Purwaningsih ini, berharap dengan
kisah yang disampaikannya anak-anak menjadi takut kepada Allah SWT.
Pengantar dongengnya selalu tentang ketauhidan. Tentang keberadaan
Allah, dan bagaimana memperkenalkan anak-anak kepada Allah. “Jadi cerita
kita bukan sekadar lelucon atau hiburan, tapi ada formulanya,” ujarnya.
Persoalan akidah pada anak-anak menjadi darurat untuk diperhatikan.
Karena sekarang ini tidak sedikit anak-anak yang akhlaknya babak-belur
oleh sampah atau virus peradaban dan sangat jauh dari nilai-nilai
islami.
Jika di masa kanak-kanak akhlak dan kepribadiannya sudah dilemahkan
virus tersebut, maka masa remaja apalagi dewasanya akan semakin
bermasalah dan tidak jelas. Dan itu belum menimbang keadaan zaman ke
depan yang besar kemungkinannya akan penuh kejutan.
“Kalau tidak ada anti virusnya, yakni akidah, maka anak-anak kita
makin ke depan makin tidak jelas kepribadiannya. Nah, semoga saja, kisah
yang kami tuturkan itu bisa menjadi salah satu anti virus dalam diri
anak-anak,” harap Kak Bimo yang pernah mewakili Indonesia dalam festival
Story Telling Internasional di Malaysia, awal 2011 lalu.
Oleh sebab itu, Kak Bimo bersama kawan-kawannya berupaya
mengedepankan kisah-kisah qurani ketika mendongeng, terutama kisah para
rasul, nabi, dan alim ulama. Mereka juga menyeleksi dan memfilterisasi
berbagai cerita yang ada dari mitos, legenda, khurofat, dan semacamnya
yang dapat merusak akidah dan akhlak. “Jadi, bagaimana kita menghidupkan
ruh tauhid dan menumbuhkan akhlaqul karimah,” ujar Kak Bimo.
Kisah Air Mata di Palestina
Pada 2012, anak kedua dari empat bersaudara ini pernah ke Jalur
Gaza, Palestina. Menghibur anak-anak yang dalam kondisi trauma, setelah
perang delapan hari. “Saya pakai bahasa Arab. Dan bahasa Arab saya yang
sangat standar ternyata juga dipahami orang sana,” katanya sambil
terkekeh.
Namun karena didapati banyak perbedaan profemnya, ibarat beda
antara bahasa Yogyakarta dan Banyumas, akhirnya kak Bimo menggunakan
bahasa Indonesia saja. “Dengan modal ekspresi dan suara yang saya
miliki, alhamdulillah, mereka tertarik,” lanjutnya.
Di Gaza, Kak Bimo memperoleh banyak pengalaman berharga. Salah satu
yang terus menggema di dadanya adalah pengalaman ketika ia bertanya
tentang cita-cita kepada anak-anak di sana. Apabila anak-anak di
Indonesia akan berebut mengangkat tangan saat ditanya siapa yang
bercita-cita ingin menjadi dokter, pemain sepak bola, atau pun memiliki
pabrik pesawat, maka hal yang sama tidak terjadi di Gaza.
“Ketika di sana saya bertanya, ‘Anak-anak siapa yang ingin jadi
presiden?’ Tidak ada yang angkat tangan. ‘Siapa yang mau jadi menteri?’
juga tidak ada,” ujar Kak Bimo. “Kecuali ada dua atau tiga anak dari 163
anak TK, yang malu-malu merespons saat ditanya tentang siapa yang
bercita-cita menjadi pemain sepak bola profesional,” lanjutnya.
Perbedaan respons yang begitu kentara dengan anak-anak Indonesia
membuat kak Bimo berpikir sejenak. Mereka-reka pertanyaan lain yang
mungkin cocok bagi mereka. Kemudian pelan-pelan kak Bimo mencoba
bertanya, “Siapa di antara kalian yang ingin mati syahid?”
Tiba-tiba 163 anak yatim itu berdiri. Seluruhnya serentak berucap,
“Saya ingin mati syahid!” Kak Bimo amat terperanjat dengan jawaban
mereka. “Saya terdiam, dan merinding kuduk saya. Saya menghapus air mata
setengah-setengah, karena saya tidak boleh tampak lemah di depan
mereka,” ucap Kak Bimo dengan tatapan berkaca-kaca.
Anak-anak Gaza itu semakin heboh mengangkat tangan saat Kak Bimo
bertanya, “Siapa yang ingin mati duluan?” Semua itu karena sambung
menyambung dengan etos Alquran. Demikian pula kenapa anak-anak usia TK
di sana sudah hafal 20 sampai 25 juz Alquran. Mereka mengetahui, dan
sudah amat yakin mati syahid akan membuka pintu langit, membuat malaikat
tersenyum, dan meraih rida Allah SWT.
“Pakai bahasa anak TK, ‘kami akan saling berlomba siapa yang paling
banyak hafal Alquran, agar mulia di sisi Allah dan agar bisa berbakti
kepada orangtua kami,” kata Kak Bimo menirukan ucapan mereka. Subhanallah! (Zamroni)
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Bambang-Bimo-Suryono-Kak-Bimo-Syahid-Cita-cita-Tertinggi-Anak-anak-di-Palestina
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Bambang-Bimo-Suryono-Kak-Bimo-Syahid-Cita-cita-Tertinggi-Anak-anak-di-Palestina





Tidak ada komentar