Saudaraku. Mungkin kita masih ingat beberapa rumus yang pernah
diajarkan di sekolah. Seperti rumus luas lingkaran, segitiga, kubus, dan
sebagainya. Rumus-rumus tersebut diajarkan di sekolah untuk memudahkan
kita dalam menghitung. Orang tidak lulus ujian di sekolah bukan karena
salah soal, tapi karena salah rumusnya. Salah rumus, salah jawabannya.
Begitu dengan kehidupan ini. Rumus kehidupan adalah al-Quran dan
Sunnah Rasul. Di antaranya adalah rumus tentang masalah, yang
sehari-hari paling dekat dengan kita. Kita bisa membacanya dalam surah
al-Baqarah [2] ayat 155-157:
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan,
kalaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah
kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang
apabila ditimpa musibah, mereka berkata ‘Innâ lillâhi wa innâ ilaihi
râji’ûn’ (sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nyalah kami
kembali). Merekalah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhan
mereka, dan merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Rumus ini menerangkan bahwa hidup kita pasti akan ditimpakan oleh
Allah SWT sedikit ujian. Ketakutan, kelaparan, maupun kekurangan harta.
Pasti ditimpakan, dan tidak bisa tidak. Tetapi ayat tersebut melanjutkan
agar memberikan kabar gembira bagi orang yang sabar dalam melaluinya.
Jadi, kalau kita sabar, maka kepahitan itu sebetulnya adalah kabar
gembira.
Lalu, sabar itu apa? Adalah mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa
kita semua milik Allah, dan kita pasti kembali kepada-Nya. Satu tidak
merasa memiliki, dua tidak punya tempat kembali. Sehingga selama kita
merasa memiliki, dan selama kita masih mencari tempat kembali selain
Allah, maka tidak akan ada sabar.
Jadi dari musibahlah datangnya berita gembira bagi orang yang sabar.
Yaitu orang yang merasa tidak memiliki apa pun, kecuali yakin lahir dan
batin kalau semuanya milik Allah SWT. Dengan begitu, barang siapa yang
ingin mendapatkan keberkahan yang sempurna, curahan rahmat dan petunjuk,
maka dia harus siap melewati kepahitan yang sedikit, dan yang pasti
ditimpakan.
Nah, saudaraku. Ketika diberikan sebuah ujian, kita merasa menderita
itu bukan karena ujiannya yang besar. Ujiannya itu hanya sedikit, dan
kepahitannya untuk kita pun sudah diukur. Kita menderita menghadapi
ujian itu karena kita sendiri yang mendramatisirnya. Mengapa? Karena
kita belum tahu rumusnya.
Dikarenakan tidak tahu atau lupa rumusnya, kadang ada juga orang yang
malah sengaja mendramatisir kesulitannya sendiri. Kepahitannya justru
dijadikan sebagai pencitraan, supaya orang-orang kasihan lalu
membantunya, maupun supaya orang-orang menganggap dirinya hebat.
Jangan, saudaraku. Untuk apa? Ujian hidup kita yang sedikit itu
urusannya dengan Allah SWT, dan setiap jalan keluar juga milik-Nya.
Berdoalah kepada Allah dan bersabarlah. Tidak akan ada gunanya kita
menangisi masalah, mempersalahkan orang lain, atau mencari simpati dan
pencitraan atas masalah yang dihadapi, kecuali hanya akan membuat kita
semakin menderita. “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. ar-Ra’d [13]: 28).
Jadi, mari kita baca dan pelajari al-Quran dan Sunnah. Kita pahami
rumus kehidupan yang telah dijelaskan dengan amat terang di sana. Supaya
kita bisa lulus ketika menghadapi ujian, dan supaya hidup kita di dunia
yang sementara ini tidak gagal. (KH. Abdullah Gymnastiar)
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Rumus-Kehidupan





Tidak ada komentar