Sejumlah orang mungkin hanya mengetahui Rasulullah saw memiliki
satu orang muadzin, yakni Bilal bin Rabah. Padahal, tidak hanya Bilal
yang menjadi muadzin Rasulullah. Ada nama lain yaitu Abdullah bin Ummi
Maktum.
Abdullah bin Ummi Maktum adalah salah seorang sahabat senior
Rasulullah. Beliau termasuk di antara as sabiquna awwalun (orang-orang
yang pertama memeluk Islam). Ada yang mengatakan namanya Umar. Ada juga
yang menyebut Amr. Kemudian Rasulullah menggantinya dengan nama
Abdullah.
Abdullah bin Ummi Maktum memiliki kekurangan fisik berupa kebutaan
(tuna netra). Rasulullah bertanya kepadanya, “Sejak kapan engkau
kehilangan penglihatan?” Ia menjawab, “Sejak kecil.” Maka Rasulullah
bersabda: “Allah berfirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku,
maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.’”
Saat Allah memerintahkan Rasul-Nya dan kaum muslimin untuk hijrah
ke Madinah, maka Abdullah menjadi orang yang pertama-tama menyambut
seruan tersebut. Walaupun memiliki kekurangan fisik, jarak antara Mekah
dan Madinah yang jauh (sekitar 490 km, ancaman dari orang-orang Quraisy,
dan bahaya dalam perjalanan, semua itu tidak menghalangi Abdullah untuk
memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya.
Pada tahun 14 H, Amirul Mukminin Umar bin Khattab mengadakan
konfrontasi dengan Kerajaan Persia. Umar menulis surat kepada para
gubernurnya dengan menyatakan, “Jangan ada seorang pun yang ketinggalan
dari orang-orang yang memiliki senjata, orang yang mempunyai kuda, atau
yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya
kepadaku sesegera mungkin!” Lalu berkumpullah kaum muslimin, tergabung
dalam pasukan besar yang dipimpin oleh sahabat yang mulia, Saad bin Abi
Waqqash. Di antara pasukan tersebut terdapat Abdullah bin Ummi Maktum.
Abdullah masuk ke dalam pasukan Perang Qadisiyah dengan mengenakan
baju besinya, tampil gagah, dan bertugas memegang panji bendera Islam.
Tidak membuatnya gentar suara di medan perang yang menderu, dentingan
tebasan pedang, atau pun desiran anak panah yang melesat. Baginya Amirul
Mukminin telah membuka kesempatan bagi semua orang dalam jihad ini. Ia
pun tidak mau melewatkan peluang berjihad di jalan Allah, walaupun
bahaya sebagai seorang tuna netra lebih berlipat ganda.
Perang yang hebat pun berkecamuk. Hingga sampai pada hari ketiga,
barulah kaum muslimin berhasil mengalahkan pasukan Persia. Kemenangan
tersebut menjadi kemenangan terbesar dalam sejarah peperangan Islam
sampai saat itu. Namun, kemenangan tersebut juga harus dibayar dengan
gugurnya para syuhada. Di antara mereka adalah sahabat dan muadzin
Rasulullah, Abdullah bin Ummi Maktum. Jasadnya ditemukan terkapar di
medan perang sambil memeluk bendera yang diamanahkan kepadanya untuk
dijaga.
Akhirnya sang muadzin pulang ke rahmatullah. Gugur sebagai pahlawan
memerangi bangsa Majusi Persia. Semoga Allah SWT menerima amalan-amalan
Abdullah bin Ummi Maktum danmemasukkan kita dan beliau ke dalam
surga-Nya. (sumber: kisahmuslim.com dengan beberapa perubahan)
https://dpu-daaruttauhiid.org/web/article/detail/Syahidnya-Sang-Muadzin-Rasulullah





Tidak ada komentar