Rasulullah saw telah memberikan contoh kepada kita bagaimana
mengasuh anak-anak. Yakni pola asuh yang didasari kasih sayang dan
kelemahlembutan. Anak diasuh bukan dengan perilaku maupun kata-kata
kasar yang mencederai harga dirinya.
Berikut ini beberapa contoh perilaku Rasulullah ketika
mengekpresikan kasih sayangnya kepada anak-anak. Semoga kita semua bisa
menjadikannya sebagai acuan dalam hidup ini.
Ketika Ja’far bin Abu Thalib terbunuh dalam peperangan Mut’ah, Nabi Muhammad saw sangat
sedih. Beliau segera datang ke rumah Ja’far dan menjumpai istrinya,
Asma bin Umais yang sedang membuat roti, memandikan anak-anak dan
memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak Ja’far.”
Ketika mereka datang, beliau menciuminya sambil meneteskan air mata.
Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah
yang menimpanya. “Wahai Rasulullah, apa gerangan yang menyebabkanmu
menangis? Apakah sudah ada berita yang sampai kepadamu mengenai suamiku
Ja’far dan kawan-kawannya?”
Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari ini ditimpa musibah.” Air
mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga banyak
perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad saw kembali
kepada keluarganya dan beliau bersabda, “Janganlah kalian melupakan
keluarga Ja’far, buatlah makanan untuk mereka karena sesungguhnya mereka
sedang sibuk menghadapi musibah kematian Ja’far.”
Al-Aqraa bin Harits melihat Nabi Muhammad mencium al-Hasan lalu berkata, “Wahai Rasulullah,
aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium
mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai
seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari
hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia
tidak akan disayangi.”
Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad supaya didoakan berkah dan diberi
nama. Anak-anak tersebut dipangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu
kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata,
“Jangan diputuskan anak yang sedang kencing, biarkanlah dia sampai
selesai dahulu kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orangtuanya
supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air
kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri
pakaian yang terkena kencing tadi.
Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah saw keluar rumah untuk menunaikan salat Ied.
Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang bermain dengan
gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka
pun tampak mengilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah
seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu.
Bajunya kompang-kamping dan kakinya tiada bersandal.
Rasulullah pun mendekatinya , lalu
diusap-usap anak itu dan mendekapya ke dada beliau seraya bertanya,
“Mengapa kau menangis, nak?” Anak itu hanya menjawab, “Biarkanlah aku
sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu
adalah Rasulullah saw yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam
suatu pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu.
“Lalu ibuku kawin lagi. Hartaku habis dimakan suami ibuku, lalu aku
diusir dari rumahnya. Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan
yang enak. Aku sedih melihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya
itu.”
Baginda Rasulullah lantas membimbing anak tersebut seraya
menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi
kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain
menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka
langsung ia berkata, “Mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” kemudian,
Rasulullah pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan diberinya pakaian
yang paling indah, memandikan, dan memberinya perhiasan agar ia tampak
lebih gagah, lalu mengajaknya makan.
Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang
lain sambil tertawa-tawa kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu,
kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa
sekarang bergembira?” Jawab anak itu, “Tadi aku kelaparan, sekarang
sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku
mempunyainya. Tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan
ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, “Wah, andaikan bapak kita mati
dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap dipelihara oleh
Rasulullah hingga beliau wafat.





Tidak ada komentar